Curug Citambur dan Keindahannya

Curug Citambur Cianjur

Sebenarnya saya sudah dari beberapa minggu lalu ingin berkunjung ke lokasi wisata satu ini. Namun saya dan teman beberapa kali membatalkan kunjungan. Alasannya beragam. Barulah kali ini berhasil. Walaupun kami tidak berkunjung bersama teman-teman secara lengkap.

Kali ini saya berkunjung bersama Ridwan Firmansyah. Rencananya kami akan berkunjung bersama dua teman lainnya. Namun mereka tidak jadi ikut.

Kami berkunjung menggunakan jalan jalur Selatan dari Sukabumi. Melalui jalan Gegerbitung-Sukanagara.

FYI, Curug Citambur memiliki ketinggian total sekitar 130 meter. Memiliki 3 tingkatan dengan masing-masing 12 m, 116 m, dan 2 m. Berada di ketinggian 1400 mdpl. Jika kamu kesini akan merasakan cipratan airnya yang membentuk embun dan turun seperti hujan gerimis.

Lokasi Curug Citambur

Curug Citambur berada di desa Karangjaya, kecamatan Pasirkuda, kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Indonesia. Curug ini berada di tebing Gunung Lemo. Gunung yang membentang dari Rancabali hingga Pasirkuda.

Rute

Jika kamu ingin berkunjung kesini, bisa menggunakan mobil atau motor. Jalannya cukup bagus dari pusat Cianjur sampai pertigaan jalan raya daerah Tanggeung. Namun saat ke atasnya agak jelek. Kamu bisa mengikuti titik pada maps di bawah ini:

Biaya

  • Tiket masuk: Rp. 10.000/orang.
  • Parkir motor: Rp. 5.000/motor
  • Parkir mobil: Rp. 5000/mobil (kecuali mobil travel: Rp. 10.000)
  • Penitipan barang atau helm: Rp. 5000.
  • Spot untuk selfie: Rp. 5.000/pintu.
Untuk uang parkir kendaraan yang menginap mungkin berbeda. Silakan pastikan terlebih dahulu kepada pengelola.

Jam Operasional

  • Hari: Setiap hari.
  • Jam: 24 jam.

Fasilitas umum

  • Lahan parkir

  • Toilet dan mushala

  • Penjual makan dan minuman.

Travel Story

Saya dan teman berangkat dari Sukabumi pagi-pagi. Kami memutuskan menggunakan jalan Gegerbitung-Sukanagara. Jalan ini agak sepi. Kami pertama kali menggunakan jalur ini.

Saat berada di daerah Gegerbitung, saya melihat ada bayangan orang melintas di depan saya. Saya sadar bahwa itu bukanlah manusia. Saya berdo'a semampu saya.

Awalnya perjalanan ini baik-baik saja. Hingga kami memasuki daerah Perkebunan Pasirnangka. Aplikasi maps kami menunjukan jalan tidak diketahui. Lalu kamu menepi sejenak dan bertanya kepada penduduk setempat. Dia mengatakan bahwa jalan yang akan kami lewati tidak disarankan untuk yang baru pertama kali kesana. Dia menyarankan untuk kembali ke Sukanagara. Lalu kami pun kembali ke jalan awal.

Saat berada di tikungan tajam di daerah Sukakarya, motor kami mendadak hampir terjatuh. Entah kenapa kami terfikirkan untuk melihat maps. Ternyata kami salah jalan. Bukan melalui jalan raya ini. Lalu kami diarahkan ke kebun teh.

Awalnya kami merasa biasa-biasa saja. Hingga kami sampai di sebuah gubuk. Lalu kami belok kanan. Saya mencoba memastikan apakah benar jalannya ke sini. Namun teman saya meyakinkan bahwa jalan itu memang benar.

Semakin lama, jalan yang kami lalu semakin sempit. Tadinya jalan itu terdapat bekas mobil. Lalu hanya bekas motor. Hingga yang paling parah adalah tidak ada bekas kendaraan atau tapak kaki kesana. Saya mulai sadar bahwa ini tidak beres. Saya pinjam ponsel teman saya. Saya terkejut bahwa jalan yang kami lalui ternyata kembali lagi ke awal. Lalu saya memberi tahu teman saya bahwa kami tersesat. Lalu kami memutuskan untuk kembali lagi ke jalan sebelum kami tersesat, lalu mengambil jalur lain.

Alhamdulillah tidak jauh setelah kembali ke jalan awal, kami bertemu bapak-bapak yang sedang membawa kayu. Kami bertanya apakah benar ini jalan menuju Curug Citambur. Beliau pun membenarkan. Lalu menawarkan untuk ke sana bersama, karena beliau pun akan ke arah yang sama. Namun saya tolak. Karena saya takut beliau ini bisa saja orang jahat. Bapak itu lalu menjelaskan jalan yang harus kami lalui, dan mengatakan saat kami nanti bertemu sebuah gubuk, kami harus terus lurus barulah belok. Bukan ke belokan yang kami tersesat tadi.

Setelah memastikan, kami melanjutkan perjalanan. Hingga tiba di gubuk yang tadi. Lalu terus lerus. Namun keanehan pun tiba, teman saya mengatakan bahwa tadi dia tidak melihat jalan ini. Saya langsung merinding mendengarnya. Dia mengatakan bahwa dia hanya melihat belokan yang kami tersesat tadi.

Foto di atas adalah jalan setelah kami melewati gubuk tadi. Jalan sebesar ini teman saya tidak bisa melihatnya. 

Perlahan jalan yang kami lalui berangsur normal. Beberapa kali kami bertemu orang lain. Bahkan ada pengendara lain. Hingga akhirnya kami bisa keluar dari kebun teh dan masuk ke jalan raya Sukanagara-Pagelaran.

Keanehan belum berakhir. Tiba-tiba teman saya tertawa. Namun agak pelan. Tertawa seperti seorang yang senang karena tujuannya telah tercapai. Saya rasakan ini tak beres. Lalu saya bertanya pada teman saya, apakah dia tadi tertawa. Dia pun membenarkannya, namun dia berkata, bahwa dia tidak sadar kenapa bisa tertawa.

Karena hal-hal aneh tadi, kami memutuskan untuk mencari mesjid terdekat untuk berdo'a dan menetralkan. Barulah kami melanjutkan perjalanan lagi.

On The Spot

Saat kami tiba, kami langsung mencari mushala karena kami belum sempat shalat Dhuhur di perjalanan. Sekalian beristirahat terlebih dahulu sebelum kami ke air terjunnya.

Setelah selesai shalat, kami langsung menuju ke air terjun. Kita hanya perlu jalan kaki sedikit. Karena letaknya tidak jauh dari mushala.

Foto diatas adalah foto pemandangan dari dekat air terjun ke arah pintu masuk tadi. Mushala ada di sebelah kiri dan yang di sebelah kanan itu spot untuk selfie.

Dari sini kita benar-benar sudah dekat dengan air terjunnya. Kamu bahkan bisa melihatnya dari kejauhan.

Saat tepat berada di bawahnya, saya sangat takjub. Karena ini memang tinggi sekali. Suara air bergemuruh. Bahkan airnya sebagian membentuk kabut.

Yang kita lihat ini belum sampai bawahnya. Karena masih ada lagi bagian bawahnya. Jarak saya ke air terjun sebenarnya agak jauh, namun air embunnya bisa sampai ke lensa kamera saya. Sesekali saya harus mengeringkan lensa dari titik-titik air.

Foto diatas adalah pemandangan dari bukit kecil dekat pohon besar. Kamu bisa mengambil foto dari titik ini, namun harus sedikit hati-hati karena kita berada di sebuah batu.

Tangga yang digunakan untuk naik di foto tersebut bisa digunakan untuk turun ke bawahnya. Tangganya cukup aman untuk di lalui. Namun kamu harus tetap waspada.

Ini adalah foto yang diambil dari air terjun di tingkat yang kedua. Masih ada 1 tingkat lagi di bawah ini. Kamu bisa melihat kabut airnya cukup tebal. Bahkan saat berada dekat dengan air terjun, kita akan merasakan seperti ada hujan gerimis. 

Saya agak kesulitas untuk mengambil foto dengan kamera karena kabutnya terus menghalangi lensa saya. Terpaksa akhirnya saya menggunakan ponsel.

Di bawah ini adalah beberapa foto tambahan yang sempat saya abadikan:


Tips

  • Ambillah jalur utara dari arah Cianjur. Karena jalannya lebih bagus dan untuk menghindari tersesat.
  • Jika sudah terlanjur tersesat, tetap tenang dan berdo'a. Kembali ke titik awal sebelum tersesat dan jika bertemu warga sekitar cepatlah bertanya.
  • Kamu harus sabar ketika masuk jalan dari pertigaan Tanggeung. Karena jalannya kurang bagus. Lebih baik membawa supir cadangan, jika kamu berasal dari luar kota dan belum terbiasa dengan jalan jelek.
Baca juga: Hiking ke Curug Cibeureum Cianjur

Trip kali ini adalah salah satu yang paling berkesan untuk saya. Meski tersesat bukanlah hal aneh bagi saya, namun jika tersesatnya seperti ini, adalah pengalaman yang berbeda. Semoga jadi pembelajaran bagi saya dan pembaca.

Baiklah, sekian trip yang melelahkan kali ini. Jangan lupa tinggalkan komentar dan bagikan artikel ini. Terima kasih.

See you next trip.

Komentar

Lagi Hits