Mampir Sejenak ke Bandung Bagian Kedua

Tulisan saya kali ini adalah lanjutan dari tulisan sebelumnya. Untuk kamu yang belum membacanya, bisa kunjungi tautan di bawah ini:

Mampir Sejenak ke Bandung Bagian Pertama 

Di bagian kedua ini, saya akan bercerita mengenai pengalaman saya di Braga, Alun-alun Kota Bandung, dan sekitarnya. Tempat ini adalah tempat yang sering saya rindukan jika berkunjung ke Bandung.

Saya berkunjung kesini saat hari masih pagi. Saya ingin mendapat suasana yang belum terlalu ramai. Saya kurang suka jika foto saya terlalu banyak orang di dalam frame.

Saya datang menggunakan transportasi umum. Pertama naik angkot lalu dilanjutkan dengan bus kota. Meskipun saya membawa kendaraan pribadi, namun sensasi menggunakan kendaraan umum saat berpetualang itu tidak kalah seru.

Penjual Lukisan di Jalan Braga

Saat turun dari bus kota, saya terlewat turun. Saya melewati pertigaan jalan menuju jalan Braga. Alhasil saya harus berjalan kaki untuk kembali ke jalan Braga.

Sesampainya di jalan ini, saya disuguhkan bernuansa klasik. Ini tidak mengejutkan, karena jalan ini sudah ada sejak dulu. Bahkan sudah cukup dikenal pada masa kolonial Belanda. Dulu namanya jalan Culik, karena cukup rawan. Dulu katanya jalannya kecil dan sepi. Jalan ini juga dulu dikenal dengan Jalan Pedati (Pedatiweg dalam bahasa Belanda). MenurutM.A. Salamen dalam bukunya Baruang Kanu Ngora, kata "Braga" diambil dari kata bahasa Sunda "Baraga", yang artinya jalan di tengah persawahan yang menyusuri sungai. Menurut beliau, di sebalah Timur dan Barat jalan ini dulu adalah persawahan. 

Selain bangunan bergaya klasik, saya tertarik dengan lukisan-lukisan yang dijajakan di jalan Braga ini. Lukisan ini dipajang sedemikian rupa untuk menarik pembeli. Dengan berbagai tema lukisan, membuatnya seperti mosaik yang indah.

Berhubung saya berkunjung masih pagi, jadi pedagangnya masih berbenah menyiapkan lukisan-lukisannya. Tapi aktifitas ini membuat saya tertarik untuk mengabadikannya. Bagaimana indah bukan lukisan-lukisannya?

Saat saya lewat, saya melihat ada turis asing yang sedang membeli beberapa lukisan. Mungkin kamu juga berniat membelinya saat berkunjung kesini. Harganya berfariatif.

Wanoja Bandung

Setelah dari Jalan Braga, saya menuju ke alun-alun Kota Bandung melewati jalan Asia Afrika. Berhubung sedang pandemi, saya tidak berani masuk ke area Alun-alun. Saya hanya diam di seberang jalan alun-alun. Disana saya bertemu dengan seorang wanoja (perempuan).

Dia berkata jika dia habis berkunjung ke salah satu kantor bank di dekat situ. Untuk mengenang almarhum ibunya yang dulu bekerja disana. Mengingat memori yang pernah ia lalui dulu.

Saya meminta tolong agar mau saya potret. Saya mengatakan bahwa foto akan saya upload di mesia sosial saya. Alhamdulillah dia mau. Lalu saya mengambilnya. Terima kasih banyak teteh.

Menara Mesjid Raya Kota Bandung

Sebelum pandemi, kita bisa naik ke menara ini. Biasanya dibuka saat akhir pekan dengan membayar tiket. Dulu terakhir saya naik, hanya membayar Rp. 5.000, tetapi saat ini saya tidak tahu harganya. Karena saya tidak berani naik. Bahkan saya tidak tahu apakah fasilitas ini dibuka atau tidak. 

Dari menara ini, jika bisa melihat pemandangan kota Bandung 360°. Kita bisa melihat orang-orang sedang berada di alun-alun, keindahan kota Bandung, bahkan pesawat yang lalu-lalang dari dan menuju Bandara terdekat. Ini sangat menyenangkan. Karena kamu tidak perlu memiliki drone untuk melihat atau memotret keindahan kota Bandung dari atas.

Baca juga: Curug Citambur dan Keindahanya


Perjalanan saya di Bandung masih berlanjut. Kamu bisa membacanya di tulisan selanjutnya, bagian ketiga.

Well, see you next trip.

Komentar

Lagi Hits