Jalan-jalan Malam di Kota Salzburg, Austria

Dulu, pertama kali saya mendengar Kota Salzburg adalah dari teman saya. Saya tidak pernah menyangka akan menginjakan kaki di kota ini. Saya yang orang kampung, tidak pernah bermimpi sekalipun, suatu saat akan berkunjung ke Austria. Ya, Salzburg adalah salah satu kota di Austria.

Saya berkunjung ke Salzburg karena ada kegiatan dari tempat saya melakukan kegiatan sukarelawan. Kegiatan ini merupakan salah satu kegiatan dalam seminar yang diadakan selama 5 hari.

Kami berangkat sore hari dari Kota Bayerisch Gmain. Kami menggunakan bus menuju Stasiun Freilassing. Dari Freilassing kami menggunakan kereta menuju Stasiun Freilassing.

Sebelum berangkat, kami melakukan tes Covid-19 terlebih dahulu di pagi hari. Lalu setelah semua dinyatakan negatif, kami baru bisa melakukan perjalanan ke Salzburg pada sore harinya. Tidak lupa juga membawa paspor bagi sukarelawan yang berasal dari luar Jerman.

Sebenarnya waktu tempuh dari Kota saya berada ke Salzburg menggunakan mobil pribadi, mungkin sekitar 20 menit. Namun, karena menggunakan angkutan umum tentu jadi lebih lama.

Suasana Malam di Kota Salzburg

Kami tiba di Salzburg masih cukup sore, namun saya dan rekan-rekan memutuskan untuk pergi mencari makan terlebih dahulu. Kami pergi ke restoran Asia. Dimana banyak dijajakan makanan dengan makanan pokok nasi atau mie. Rasanya sudah lama tidak makan nasi. Haha.. Alhamdulillah saat ini bisa makan nasi lagi.

Setelah selesai makan malam, kami pergi berjalan-jalan untuk menikmati suasana Kota. Saat itu turun hujan. Namun sepertinya tidak menghalangi orang-orang untuk beraktifitas. Meski jalanan agak sedikit lengang. Entah memang seperti itu biasanya. Karena di Bayerisch Gmain, Jerman pun jarang ada kemacetan.

Sepeda Sebagai Alat Transportasi

Jika di Indonesia, mungkin kebanyakan orang menggunakan sepeda sebagai alat untuk berolah raga, maka di sini sepertinya sama dengan di Jerman, dimana orang sering menggunakan sepeda sebagai alat transportasi. Banyak tersedia tempat parkir khusus untuk sepeda atau jalan khsusus untuk pesepeda. Saya pun sering menggunakan sepeda ke tempat kerja atau sekedar untuk berbelanja.

Disini, kita hanya perlu mengunci sepeda dan memarkirnya. Itu cukup aman. Kita tidak perlu khawatir sepeda kita akan hilang. Kita bisa bebas melakukan kegiatan dan membiarkan sepeda berada di tempatnya. Kecuali jika kamu tidak menguncinya, itu sedikit berisiko. Jadi saya selalu membawa kunci sepeda kemana pun saya menggunkan sepeda.

Kios Rokok di Salzburg

Antara Austria dan Jerman ada beberapa persamaan, terutama di Salzburg. Salah satu kesamaannya adalah bahasa. Saya bisa menggunakan bahasa Jerman untuk berkomunikasi dengan orang lain di kota ini. Selain itu, saya juga menemukan kios rokok seperti di Jerman. Biasanya ada tulisan Tabak di kiosnya, ini juga ada tulisan tabaknya tapi di sisi lain kiosnya. Tabak berarti tembakau. Jadi kalau ke Jerman, lalu kamu melihat tulisan Tabak, jangan dikira mereka jualan makanan manis ya, hehe..

Jembatan Marko Feingold

Dari Stasiun Salzburg, kami terus berjalan ke arah Selatan, melewati Istana Mirabell. Sayangnya saya tidak tahu mana yang istana Mirabell, sehingga saya tidak jadi memotretnya. 

Dengan terus berjalan ke Selatan, kami sampai di Jembatan Marko-Feingold. Sebuah jembatan yang berada di atas sungai Salzach. Jembatan ini dulunya bernama jembatan Makart, lalu diganti dengan nama Marko Feingold. Nama tersebut diberikan untuk mengingat seorang yang selamat dari peristiwa Holocaust.

Di jembatan ini juga ada gembok cinta. Tidak terhitung berapa banyaknya gembok yang ada disini. Namun katanya, gembok sering diambil secara berkala untuk alasan keamanan dan keselamatan jembatan. Siapa tau ada yang ingin mengunci gemboknya bersama pasangan ke sini.

Dari atas jembatan, di sisi Barat kita bisa melihat pemandangan Benteng Hohensalzburg dan di sebelah Timur, kita bisa melihat Hotel Sacher Salzburg.

Meski malam hari, disini tetap ramai pengunjung. Kita bisa menikmati berbagai sisi dari sungai Salzach dan bangunan-bangunan sekitarnya.

Tempat Kelahiran Mozart

Dari Salzarch kami berjalan menyeberangi jembatan, lalu menuju Getreidegasse. Sebuah Jalan kecil yang juga berfungsi sebagai pusat perbelanjaan dan wisata. Disini kamu bisa menemukan banyak hal, termasuk juga makanan dan souvenir.

Suasana seperti ini mengingatkan saya dengan Paris van Java di Bandung. Jadi rindu Bandung, hehe.. Jalannya memang tidak terlalu besar namun cukup luas untuk pejalan kaki atau pesepeda.

Di Getreidegasse kita juga bisa menemukan tempat dimana Mozart dilahirkan. Tempat ini sekarang berfungsi sebagai musium untuk Mozarts dan kehidupan masa mudanya. Sayang sekali kami tidak bisa masuk karena sudah tutup. Jam operasionalnya adalah 09:00 - 17:30. Letak rumah ini berada di jalan Getreidegasse nomor 9, Salzburg, Austria.

Tidak terlalu jauh dari rumah diatas, kita bisa menuju ke Mozartplatz. Hanya memerlukan sekitar 5 menit berjalan kaki ke arah selatan. Letaknya ada di Kota Tua Salzburg.

Disini terdapat patung Mozart, letaknya berada di tengah Mozartplatz. Patung ini adalah karya Ludwig Schwanthaler, didirikan pada tahun 1841 pada peringatan 50 tahun kematian Wolfgang Amadeus Mozart.  

Pemandangan Kota Salzburg

Dari Mozartplatz, kami berjalan ke arah Benteng Hohensalzburg. Jalannya sedikit mendaki. Letaknya tidak terlalu jauh. Kita akan melewati beberapa jalan kecil dan juga tangga.

Jika sampai di dekat Benteng, pemandangannya seperti pada foto diatas. Indah bukan? Perpaduan modernitas dan bangunan tua yang serasi. Membuat saya berdecak kagum.

Baca juga: Persiapan Saya Menuju Jerman

Baiklah, sekian jalan-jalan saya kali ini di Kota Salzburg, Austria. Jika ada pertanyaan saran, atau hal lain yang ingin disampaikan, kamu bisa tulis di komentar.

See you next trip!

Komentar

Lagi Hits